MAKALAH
BUDAYA ORGANISASI
Dosen : Ust. Alim Puspianto
Disusun Oleh :
Sumali
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM LUKMAN AL- HAKIM
JURUSAN DAKWAH
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
2016
BAB.
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Budaya organisasi adalah sebuah sistem makna bersama
yang dianut oleh para anggota yang membedakan suatu organisasi dari
organisasi-organisasi lainnya. Sistem makna bersama ini adalah sekumpulan karakteristik kunci
yang dijunjung tinggi oleh organisasi. Dalam sebuah organisasi mempunyai ciri
khas dalam berkomunikasi dan berinteraksi baik dengan sesama anggota maupun
dengan publik.
Budaya organisasi yang menjadi ke khasan organisasi bisa
menjadikanya terkenal karena citra budaya yang dibangun, terkadang budaya
organisasi juga menjadi momok yang menjadi penghalang berkembangnya sebuah
organisasi itu sendiri. Ada organisasi yang budayanya berubah-ubah mengikuti
perkembangan zaman ada juga organisasi yang mempertahankan budaya organisasi semanjak
dicetuskan organisasi tersebut.
Dalam sebuah organisasi budaya yang dijalankanya seharusnya
mengikuti perkembangan zaman dan teknologi yang ada, yang bertujuan untuk
perkembangan organisasi tersebut agar mampu bersaing dengan organisasi yang
serupa. Dalam perkembangan organisasi setiap perubahan budaya perlu dilakukan
dengan memanag sedmikan rupa agar bisa sesuai dengan perkembangan dan bisa
diaplikasikan oelh anggota organisasi.
Namun ada pula organisasi yang budayanya tidak mau mengikuti jaman,
hal ini yang sering kali membuat kejenuhan pada anggota lama, dan akan sangat
sulit diikuti oleh anggota organisasi yang baru khususnya anggota yang bersifat
modern. Hal ini juga menjadi penghambat berkembangnya organisasi itu sendiri
karena terlalu stagnan.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Definisi budaya
organisasi
2.
Asal usul
budaya organisasi
3.
Konsep dasar
budaya organisasi
4.
Karakteristik
budaya organisasi
C.
TUJUAN
PENULISAN
1.
Mengetahui
definisi atau pengertian budaya organisasi.
2.
Menjelaskan
asal usul budaya organisasi
3.
Mengetahui
konsep dasar budaya organisasi
4.
Mengetahui
karakter budaya organisasi
D.
MANFAAT
PENULISAN
BAB.
II
PEMBAHASAN
A.
DEFINISI
BUDAYA ORGANISASI.
Perkataan organisasi berasal dari bahasa Yunani yaitu organon yang
berarti alat, bagian, anggotam atau bagian badan. Sedangkan kata “organisasi”
itu mempunyai dua pengertian umum. Pengertian pertama menandakan suatu lembaga
atau kelompok fungsional, seperti organisasi perusahaan, rumah sakit, perwakilan
pemerintah atau suatu perkumpulan olahraga. Pengertian kedua berkenaan dengan
proses pengorganisasian, sebagai suatu cara dalam mana kegiatan organisasi
dialokasikan dan ditugaskan di antara para anggotanya agar tujuan organisasi
dapat tercapai dengan efisien.
Pengaruh budaya organisasi sangat berpengaruh kepada anggota
organisasi tersebut dan sasaran dari dari sebuah organisas. Oleh karena itu
menciptakan sebuah budaya organisasi yang unik dan menjadi ciri khas dari
sebuah organisasi sangatlah penting. Dengan adanya budaya organisasi membuat
kelancaran komunikasi dengan internal maupun external organisasi.
Beberapa ahli mendefenisikan organisasi sebagai: (dalam Malayu
2003:11)
1.
Organisasi
dapat diartikan sebagai proses penentuan dan pengelompokan pekerjaan
yang akan dikerjakan, menetapkan dan melimpahkan wewenang dan tanggung jawab,
dengan maksud untuk memungkinkan orang-orang bekerja sama secara efektif dalam
mencapai tujuan (Louis A. Allen).
2.
Organisasi
adalah suatu sistem perserikatan formal, berstruktur, dan terkoordinasi dari
sekelompok orang yang bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu. Organiasi
hanya merupakan alat dan wadah saja (Malayu Hasibuan).
3.
Organisasi
adalah pola keadaan di mana sejumlah orang banyak, sangat banyak mempunyai teman
berhubungan langsung dengan semua yang lain, dan menangani tugas-tugas yang
kompleks, menghubungkan mereka sendiri satu sama lain dengan sadar, penentuan
dan pencapaian yang sistematis dari tujuan-tujuan yang saling disetujui (John
m. Pfifner dan Frank P. Sherwood).
Sedangkan menurut L. F. Urwick (dalam Winardi 2003:13) bahwa
organisasi- organisasi lebih dari hanya alat untuk menciptakan barang-barang
dan menyelenggarakan jasa-jasa. Organisasi menciptakan kerangka, dimana banyak
diantara kita melaksanakan proses kehidupan. Sehubungan dengan organisasi-
organisasi menimbulkan pengaruh besar atas perilaku kita.
Sehingga organisasi dapat disimpulkan sebagai kerja sama antara dua
orang atau lebih dalam kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan untuk mencapai
tujuan tertentu, yang tidak mungkin dilaksanakan oleh individu-individu yang
bertindak secara sendiri-sendiri, dimana tujuan organisasi tersebut diarahkan
pada penciptaan barang-barang dan menyelenggarakan jasa-jasa.
Jika orang-orang bergabung dalam sebuah organisasi, mereka membawa
nilai- nilai dan kepercayaan yang telah diajarkan kepada mereka. Tetapi sering
terjadi, nilai- nilai tersebut tidak cukup membantu individu yang bersangkutan
untuk sukses dalam organisasi. Yang bersangkutan perlu belajar bagaimana
organisasi tersebut melakukan kegiatannya. Biasanya diberikan training untuk
merestrukturisasikan cara berpikir. Mereka diajarkan untuk berpikir dan
bertindak seperti yang dikehendaki organisasi.
Budaya organisasi memberikan ketegasan dan mencerminkan spesifikasi
suatu organisasi sehingga berbeda dengan organisasi lain. Budaya organisasi
melingkupi seluruh pola perilaku anggota organisasi dan menjadi pegangan bagi
setiap individu dalam berinteraksi, baik di dalam ruang lingkup internal maupun
ketika berinteraksi dengan lingkungan eksternal.
Oleh karena itu menurut Schein, secara komprehensif budaya
organisasi didefenisikan sebagai pola asumsi dasar bersama yang dipelajari oleh
kelompok dalam suatu organisasi sebagai alat untuk memecahkan masalah
terhadap penyesuaian faktor eksternal dan integrasi faktor internal, dan telah
terbukti sah, dan oleh karenanya diajarkan kepada para anggota organisasi yang
baru sebagai cara yang benar untuk mempersepsikan, memikirkan dan merasakan
dalam kaitannya dengan masalah-masalah yang dihadapi. Hal ini cukup bernilai
dan, oleh karenanya pantas diajarkan kepada para anggota baru sebagai cara yang
benar untuk berpersepsi, berpikir, dan berperasaan dalam hubungannya dengan
problem-problem tersebut (dalam Hessel Nogi 2005:15)
Defenisi tersebut terlalu kompleks sehingga menurut Robbins, budaya
organisasi cukup didefenisikan sebagai sebuah persepsi umum yang dipegang teguh
oleh para anggota organisasi dan menjadi sebuah sistem yang memiliki
kebersamaan pengertian (dalam 2005:531).
Robbins (2002:279) juga menjelaskan bahwa budaya organisasi
menyangkut bagaimana para anggota melihat organisasi tersebut, bukan menyangkut
apakah para anggota organisasi menyukainya atau tidak, karena para anggota
menyerap budaya organisasi berdasarkan dari apa yang mereka lihat atau dengar
di dalam organisasi. Dan anggota organisasi cenderung
mempersepsikan sama tentang budaya dalam
organisasi tersebut meskipun mereka berasal dari latar belakang yang berbeda
ataupun bekerja pada tingkat-tingkat keahlian yang berlainan dalam organisasi
tersebut.
Sehingga budaya organisasi dapat disimpulkan sebagai nilai-nilai
yang menjadi pegangan sumber daya manusia dalam menjalankan kewajibannya dan
juga perilakunya di dalam suatu organisasi.
B.
ASAL
USUL BUDAYA ORGANISASI
Budaya organisasi tumbuh dari kegiatan komunikasi para
anggota. Meskipun budaya organisasi merupakan produk komunikasi manusia, ia
dapat mencapai kualitas yang efektif dan “memaksa” kepada individu-individu di
dalam organisasi.
Simbol adalah suatu elemen yang penting dari budaya
organisasi. Merek dagang, gedung, perabotan kantor, dan seragam adalah contoh
sumbol yang sering terlihat sebagai fakta budaya organisasi. Kadang-kadang
simbol organisasi yang berkembang secara alami, seperti baju seragam informal
di antara karyawan sengaja di kembangkan dan dipromosikan secara aktif.
Ruang adalah simbol penting lainnya bagi organisasi.
Dalam banyak organisasi, aturan yang di kembangkan untuk digunakan dalam
mengalokasikan ruang karyawan, seperti ukuran, lokasi, dan dekorasi kantor atau
tempat kerja karyawan adalah mencermikan posisinya. Ruang kantor yang lenih
besar, lebih rumit perlengkapan dan hiasannya, menunjukan level yang lebih
tinggi dalam organisasi. Pekerja dengan jabatan lebih rendah, mungkin akan.
Mungkin memiliki ruang kerja yang lebih kecil, dihias secara sederhana. Orang pada
tingkay yang masih rendah mungkin tidak memiliki ruang kerja pribadi, atau jika
lemari arsip. Adalah masuk akal bagi orang luar, jika karpet di ruangan kantor
kosong akan dicabut dan disingkirkan, kecuali jika ruangan itu diisi kembali
oleh orang yang punya peringkat jabatan. Tindakan-tindakan ini dianggap perlu
untuk melestarikan budaya. Tindakan-tindakan ini juga bervariasi dari satu
organisasi ke organisasi lainnya.
C.
KONSEP DASAR BUDAYA ORGANISASI
Menurut Robbin (1991:572), budaya organisasi adalah suatu
persepsi bersama yang dianut oleh anggota-anggota organisasi itu; suatu sistem
dari makna bersama. Budaya organisasi memiliki kepribadian yang menunjukkan
ciri suasana psikologis organisasi, yang memiliki arti penting bagi kehidupan
organisasi, kenyamanan, kelancaran, dan keefektifan organisasi. Suasana
psikologis terbangun pola-pola kepercayaan, ritual, mitos, serta
praktek-praktek yang telah berkembang sejak lama, yang pada gilirannya
menciptakan pemahaman yang sama diantara para anggota organisasi mengenai
bagaimana sebenarnya organisasi itu dan bagaimana para anggota harus
berperilaku. Dalam hal ini sebagaimana yang dinyatakan Peterson (1994), bahwa
budaya organisasi itu mencakup keyakinan, ideologi, bahasa, ritual, dan mitos
dan pada akhirnya Creemers dan Reynold (1993) menyimpulkan bahwa budaya
organisasi adalah keseluruhan norma, nilai, keyakinan, dan asumsi yang dimiliki
oleh anggota di dalam organisasi.
Oleh karena itu, budaya organisasi itu berwujud dalam
filosofi, ideologi, nilai-nilai, asumsi-asumsi, keyakinan, serta sikap dan
norma bersama anggota organisasi tersebut dalam memandang berbagai realitas,
terutama berkaitan dengan permasalahan internal maupun eksternal organisasi.
Senada dengan itu, Owens (1995) mendefinisikan
budaya organisasi sebagai Budaya
organisasi didefinisikan sebagai pola pemecahan masalah eksternal dan internal
yang diterapkan secara konsisten bagi suatu kelompok, dan oleh karenanya
diajarkan kepada anggota-anggota baru sebagai cara yang benar dalam
memandang, memikirkan, dan memecahkan masalah yang dihadapi tersebut.
Dengan
demikian budaya atau kultur organisasi dapat didefinisikan sebagai kualitas
kehidupan (the quality of life) dalam sebuah organisasi, termanifestasikan
dalam aturan-aturan atau norma, tatakerja, kebiasaan kerja (work habits), gaya
kepemimpinan (operating styles of principals) seorang atasan maupun bawahan
(Hodge & Anthony, 1988). Kualitas kehidupan organisasi, baik yang terwujud
dalam kebiasaan kerja maupun kepemimpinan dan hubungan tersebut tumbuh dan
berkembang berdasarkan spirit dan keyakinan tertentu yang dianut organisasi.
Karena itu, budaya organisasi banyak didefinisikan juga sebagai spirit dan
keyakinan sebuah organisasi yang mendasari lahirnya aturan-aturan, norma-narma
dan nilai-nilai yang mengatur bagaimana seseorang harus bekerja, struktur yang
mengatur bagaimana seorang anggota organisasi berhubungan secara formal maupun
informal dengan orang lain, sistem dan prosedur kerja yang mengatur bagaimana
kebiasaan kerja seharusnya dimiliki seorang pemimpin maupun anggota organisasi
(Torrington & Weightman, dalam Preedy, 1993).
Berdasarkan
pengertian budaya atau kultur organisasi di atas, sebenarnya konsep
budaya atau kultur dapat dipahami dari dua sisi, yaitu :
1.
Memahami
ditinjau dari sudut sumbernya
2.
Memahami
dari sisi manifestasi atau tampilannya. Budaya atau kultur bersumber dari
spirit dan nilai-nilai kualitas kehidupan.
Beberapa
spirit dan nilai-nilai yang patut dianut sebuah organisasi, sebagaimana
disarankan oleh Torrington & Weightman, dalam Preedy (1993) diantaranya
adalah spirit dan nilai-nilai disiplin, spirit dan nilai-nilai tanggung jawab,
spirit dan nilai-nilai kebersamaan, spirit dan nilai-nilai keterbukaan,
spirit dan nilai-nilai kejujuran, spirit dan nilai-nilai semangat hidup, spirit
dan nilai-nilai sosial dan menghargai orang lain, serta persatuan dan kesatuan.
Sedangkan budaya atau kultur dipahami dari sisi manifestasi atau tampilannya
yaitu dengan cara merasakan atau mengamati manifestasi atau tampilan yang
tercermin dalam aturan-aturan dan prosedur-prosedur yang mengatur
bagaimana pemimpin dan anggota organisasi seharusnya bekerja, struktur
organisasi yang mengatur bagaimana seorang anggota organisasi seharusnya
berhubungan secara formal maupun informal dengan orang lain, sistem dan
prosedur kerja seharusnya diikuti, dan kebiasaan kerja dimiliki seorang
pemimpin maupun anggota organisasi.
Sehubungan
dengan hal tersebut di atas, budaya atau kultur organisasi mengikat anggota
menjadi suatu kesatuan yang utuh dan senantiasa diajarkan/disampaikan kepada
setiap anggota baru organisasi atau dengan kata lain bahwa budaya organisasi
merupakan perpaduan nilai-nilai, keyakinan, asumsi, pemahaman, dan
harapan-harapan yang diyakini oleh anggota organisasi atau kelompok serta dijadikan
sebagai pedoman bagi perilaku dan pemecahan masalah yang dihadapi (Hodge &
Anthony, 1988) dan merupakan proses sosialisasi anggota organisasi untuk
mengembangkan persepsi, nilai, dan keyakinan terhadap organisasi (Sonhadji,
1991) berdasarkan spirit dan keyakinan tertentu yang dianut organisasi.
Ada
seperangkat karakteristik utama yang dihargai oleh organisasi. Riset yang
paling baru mengemukakan tujuh karakteristik primer berikut yang menangkap
hakikat dari budaya suatu organisasi. Tujuh karakteristik budaya organisasi
tersebut, yaitu:
1. Inovasi dan pengambilan risiko, sejauh mana para
karyawan didorong untuk inovatif dan mengambil risiko,
2. Perhatian ke rincian, sejauh mana para karyawan
diharapkan mem-perlihatkan presisi (kecermatan), analisis, dan perhatian kepada
rincian,
3. Orientasi hasil, sejauh mana manajemen memusatkan
perhatian pada hasil bukannya pada teknik dan proses yang digunakan untuk
mencapai hasil itu
4. Orientasi orang, sejauh mana keputusan manajemen
memperhitungkan efek hasil-hasil pada orang-orang di dalam organisasi itu,
5. orientasi tim, sejauh mana kegiatan kerja
diorganisasikan sekitar tim-tim, bukannya individu-individu,
6. Keagresifan, sejauh mana orang-orang itu agresif dan
kompetitif dan bukannya santai-santai, dan
7. Kemantapan, sejauh mana kegiatan organisasi menekankan
dipertahankannya status quo daripada pertumbuhan (Robbin, 2003).
Sehubungan
dengan itu, Harris (1998) mengemukakan ciri-ciri budaya dalam organisasi yang
disebut sebagai dimensi dari organisasi. Ciri-ciri tersebut, yaitu:
1.
Tujuan dan
misi,
2.
Sikap,
keyakinan, prinsip-prinsip, dan philosophi,
3.
Perioritas,
nilai, etika, status, dan system hadiah,
4.
Norma dan
peraturan,
5.
Desain
struktur organisasi, dan teknologi,
6.
Kebijakan,
prosedur, dan proses-proses,
7.
System
komunikasi, bahasa, dan terminologi,
8.
Pengawasan,
pelaporan, dan praktik personal,
9.
Membuat
keputusan, memecahkan masalah, dan resolusi konflik,
10. Kompensasi, pengakuan, dan promosi,
11. Ruang dan lingkungan kerja,
12. kepemimpinan”.
DeRoche
(1987) mengemukakan empat ciri budaya organisasi yang efektif sebagai berikut:
1.
Struktur
dan perintah,
2.
Dukungan
bagi interaksi social,
3.
Dukungan
bagi kegiatan-kegiatan intelektual atau belajar,
4.
Komitmen
yang kuat terhadap visi dan misi organisasi.
Sedangkan
hasil penelitian Soetopo (2001) ada dua belas karakteristik budaya organisasi,
yaitu: nilai-nilai keteladanan, tanggung jawab, kebersamaan, otonomi individu,
tata aturan/norma, dukungan, identitas, hadiah, performansi, toleransi konflik,
toleransi resiko, dan upacara simbolik.
Budaya
organisasi muncul dalam dua dimensi, yaitu dimensi yang tidak tampak
(intangiable) dan dimensi yang tampak (tangiable). Dimensi yang tidak tampak
yaitu meliputi: spirit/nilai-nilai, keyakinan, dan idiologi yang dimanifestasikan
dalam dimensi yang tampak, meliputi: kalimat, baik tertulis maupun lisan yang
digunakan, perilaku yang ditampilkan, bangunan, fasilitas, serta benda yang
digunakan di sekolah (Calldwell dan Spinks, 1993).
Sedangkan
Sergiovanni (1987:128) mengutip pendapat Lundberg menyebutkan bahwa budaya
organisasi muncul dalam empat tingkatan, yaitu :
1.
Artifacts,
2.
Perspectives,
3.
Values, dan
4.
Assumption.
Pada
tingkatan artifacts, budaya organisasi terwujud dalam cerita/kisah, mitos,
ritual, seremoni, serta produk-produk yang merupakan yang merupakan
simbolisasi nilai-nilai. Wujud budaya organisasi pada tingkatan perspectives
adalah peraturan-peraturan dan norma yang dijadikan acuan dalam menyelesaikan
problema yang dihadapi oleh organisasi dan menjadi pedoman bersikap dan
berperilaku anggota.
Wujud
budaya organisasi pada tingkatan values adalah nilai yang dijadikan acuan dalam
segala keputusan dan tindakan anggota organisasi serta yang mencerminkan
tujuan, identitas, dan standar penilaian terhadap segala sesuatu. Sedang wujud
budaya organisasi pada tingkatan assumption merupakan pandangan anggota
organisasi mengenai dirinya dan orang lain yang mengarahkan pada hubungan
antara dirinya dengan orang lain tempat ia berada.
Budaya
organisasi menjalankan sejumlah fungsi di dalam sebuah organisasi.
Fungsi-fungsi budaya organisasi, yaitu:
1.
Berperan
menetapkan tapal batas; artinya budaya menciptakan perbedaan yang jelas antara
satu organisasi dan yang lain,
2.
Membawa
suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi,
3.
Mempermudah
timbulnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas daripada kepentingan diri
pribadi seseorang, dan
4.
Meningkatkan
kemantapan sistem sosial organisasi (Robbin, 2003).
Senada
pendapat tersebut di atas, Greemers & Reynold (1993) mengemukakan
bahwa fungsi budaya organisasi adalah (1) memberikan rasa identitas kepada
anggota organisasi, (2) memunculkan komitmen terhadap visi dan misi organisasi,
(3) membimbing dan membentuk standart perilaku anggota organisasi, dan (4)
meningkatkan stabilitas sistem sosial.
Khususnya
fungsi keempat, baik yang dikemukakan oleh Robbin maupun Greemers &
Reynold tersebut di atas, budaya organisasi merupakan perekat sosial yang
membantu mempersatukan organisasi itu dengan memberikan standar-standar yang
tepat untuk apa yang harus dikatakan dan dilakukan oleh anggota-anggota
organisasi. Budaya organisasi berfungsi sebagai mekanisme pembuat makna dan
kendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku anggota-anggota
organisasi.
Berdasarkan
paparan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap anggota organisasi
merupakan bagian dari organisasi, yang secara psikologis dan emosional terhadap
organisasinya akan menyatu dan melebur dengan komponen lainnya. Semakin kuat
ikatan psikologis dan emosional antara anggota organisasi, maka semakin kuat
komitmen, rasa identitas, memegang standar perilaku dan mantapnya stabilitas
sistem sosial organisasi.
D.
KARAKTERISTIK
BUDAYA ORGANISASI
Untuk
memberikan pengertian yang lebih mudah, terdapat 10(sepuluh) karakteristik
penting menurut Robbins, yang dapat dipakai sebagai acuan esensial dalam
memahami serta mengukur keberadaan budaya organisasi tersebut, yaitu:
1.
Inisiatif
Individual
Yang dimaksud inisiatif individual adalah tingkat tanggung jawab,
kebebasan atau independensi yang dipunyai setiap individu dalam mengemukakan
pendapat. Inisiatif individu tersebut perlu dihargai oleh kelompok atau
pimpinan suatu organisasi sepanjang menyangkut ide untuk memajukan dan
mengembangkan organisasi.
2.
Toleransi
terhadap Tindakan Beresiko.
Dalam budaya organisasi perlu ditekankan, sejauh mana para pegawai
dianjurkan untuk dapat bertindak agresif, inovatif dan mengambil resiko. Suatu
budaya organisasi dikatakan baik, apabila dapat memberikan toleransi kepada
anggota/para pegawai untuk dapat bertindak agresif dan inovatif untuk
memajukan organisasi serta berani mengambil resiko terhadap apa yang
dilakukannya.
3.
Pengarahan.
Pengarahan dimaksudkan sejauh mana suatu organisasi dapat
menciptakan dengan jelas sasaran dan harapan yang diinginkan. Sasaran dan
harapan tersebut jelas tercantum dalam visi, misi dan tujuan organisasi.
Kondisi ini dapat berpengaruh terhadap kinerja organisasi.
4.
Integrasi.
Integrasi dimaksudkan sejauh mana suatu organisasi dapat mendorong
unit-unit organisasi untuk bekerja dengan cara yang terkoordinasi. Kekompakan
unit-unit organisasi dalam bekerja dapat mendorong kualitas dan kuantitas
pekerjaan yang dihasilkan.
5.
Dukungan
Manajemen.
Dukungan manajemen dimaksudkan sejauh mana para manajer dapat memberikan
komunikasi atau arahan, bantuan serta dukungan
yang jelas terhadap bawahan. Perhatian manajemen terhadap
pegawai sangat membantu kelancaran kinerja suatu organisasi.
6.
Kontrol Alat.
Kontrol yang dapat dipakai adalah peraturan-peraturan atau norma-norma
yang berlaku dalam suatu organisasi. Untuk itu diperlukan sejumlah peraturan
dan tenaga pengawas (atasan langsung) yang dapat digunakan untuk mengawasi dan
mengendalikan perilaku pegawai dalam suatu organisasi.
7.
Identitas.
Identitas dimaksudkan sejauh mana para pegawai dalam suatu
organisasi dapat mengidentifikasikan dirinya sebagai satu kesatuan dan bukan
sebagai kelompok kerja tertentu. Identitas diri sebagai satu kesatuan sangat
membantu manajemen dalam mencapai tujuan dan sasaran organisasi.
8.
Sistem Imbalan.
Sistem imbalan dimaksudkan sejauh mana alokasi imbalan (seperti
kenaikan gaji, promosi dan sebagainya) didasarkan atas prestasi kerja pegawai,
bukan senioritas atau pilih kasih.
9.
Toleransi
terhadap Konflik.
Sejauh mana para pegawai didorong untuk mengemukakan konflik dan
kritik secara terbuka. Perbedaan pendapat atau kritik merupakan fenomena yang
sering terjadi namun bisa dijadikan sebagai media untuk melakukan perbaikan
atau perubahan strategi untuk mencapai tujuan suatu organisasi.
10. Pola Komunikasi.
Sejauh mana komunikasi dibatasi oleh hierarki kewenangan yang
formal. Kadang- kadang hierarki kewenangan dapat menghambat terjadinya pola
komunikasi antara atasan dan bawahan atau antar karyawan itu sendiri.
Beberapa
kultur organisasi dapat dikatakan kuat sedangkan yang lainnya dikatakan lemah.
Menurut Muchlas (2005:534) untuk mengetahui apakah kultur suatu organisasi
sudah kuat, ada beberapa karakteristik yang perlu dinilai yaitu:
1.
Kebersamaan.
Kebersamaan dapat ditunjukkan dengan besarnya derajat kebersamaa
yang dimiliki oleh para anggota organisasi tentang nilai-nilai inti. Derajat
kebersamaan dipengaruhi oleh faktor orientasi dan penghargaan. Supaya
orang-orang tersebut mau berbagi nilai-nilai kultural yang sama, mereka harus
mengetahui apakah nilai- nilai ini. Banyak organisasi memulai proses ini dengan
program orientasi. Para pegawai baru diberitahu tentang filosofi organisasi dan
cara untuk mengoperasikannya. Orientasi ini berlanjut dalam pekerjaan manakala
atasan dan teman sekerja mereka berbagi nilai-nilai ini melalui
kebiasan-kebiasaan, kata-kata, contoh-contoh atau kerja sehari-hari.
Kebersamaan juga dapat dilihat dari keteraturan perilaku
anggota-anggota organisasi yang dapat diamati. Selain iu kebersamaan juga
dipengaruhi oleh penghagaan. Organisasi-organisasi memberikan promosi, pangkat
atau jabatan, pengakuan dan bentuk-bentuk penghargaan yang lain kepada mereka
yang setia dengan nilai-nilai ini.
2.
Peran Pemimpin.
Pemimpin yang kuat adalah seorang pemimpin yang dapat menetapkan
arah organisasi yang dipimpinnya artinya dapat melahirkan perubahan untuk
mencapai tujuan organisasi, mengarahkan orang-orang untuk menciptakan kesatuan
tindakan, dan juga dapat memotivasi dan memberi inspirasi kepada bawahannya.
Sehingga tercipta budaya yang terbuka dalam organisasi.
3.
Intensitas.
Derajat intensitas di sini adalah hasil dari struktur penghargaan.
Ketika para karyawan menyadari bahwa mereka akan diberi penghargaan untuk
melakukan sesuatu dengan cara yang ditetapkan organisasi, keinginan mereka untuk
melakukannya dengan cara tersebut akan meningkat. Sebaliknya, ketika mereka
tidak diberi penghargaan atau merasa lebih menguntungkan kalau tidak
mengerjakan sesuatu dengan cara yang ditetapkan organisasi, komitmen mereka
terhadap nilai-nilai inti akan menghilang. Meskipun pengakuan dan penghargaan-
penghargaan financial lainnya juga termasuk penting, uang ternyata masih
memegang peranan penting.
Budaya
organisasi yang berlaku dalam dunia
birokrat, bentuk dan sumber daya yang ada dalam
organisasi pada umumnya sama dengan apa yang ada dalam
organisasi perusahaan dan sosial. Namun berbeda dalam visi, misi dan
karakteristik yang dimilikinya. Organisasi publik atau birokrasi publik tidak
berorientasi langsung pada tujuan akumulasi keuntungan, namun memberikan
layanan publik dan menjadi katalisator dalam penyelenggaraan pembangunan maupun
penyelenggaraan tugas negara.
Luthans
dan Kreitner (dalam Hessel Nogi 2005:16) berpendapat bahwa ada beberapa
karakteristik budaya organisasi yang perlu diketahui dalam mempelajari perilaku
yang ada dalam suatu organisasi publik:
1.
Budaya
organisasi merupakan proses belajar (learned).
2.
Budaya
organisasi merupakan milik bersama kelompok (shared), bukan milik individu.
3.
Budaya
organisasi diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya
(transgenerational).
4.
Budaya
organisasi mengekspresikan sesuatu dengan menggunakan simbol (symbolic).
5.
Budaya
organisasi merupakan suatu pola yang terintegrasi, jadi setiap perubahan akan
mempengaruhi komponen lainnya (patterned).
6.
Budaya
organisasi terbentuk berdasarkan kemampuan orang untuk beradaptasi dengannya
(adaptive).
Sumber:
§
Arif S.,
Mirrian. 1985. Organisasi dan Manajemen. Jakarta: Karunika.
§
Darsono.
2009. Budaya Organisasi. Jakarta: Nusantara Consulting
§
Davis, Keith,
dan Newstrom, W., John. 1989. Human Behavior At Work: Organizational Behavior.
New York: Mc Graw Hill International.
§
Ndraha,
Taliziduhu, 2005. Teori Budaya Organisasi. Jakarta: Rineka Cipta
§
Ndraha,
Taliziduhu. 2003. Budaya Organisasi. Jakarta: Rineka Cipta
§
Owens,
Robert G. 1987. . Organizational Behavior in Education. New Jersey: Prentice
Hall Inc.
§
Rivai,
Veithzal. 2009. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi Edisi ketiga. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.
§
Robbins,
Stephen P. 1996. 1996. Organizational Behavior: Concepts, Controversies,
Aplications. New Jersey: Englewood Cliffs.
§
Sagala,
Syaiful. 2008. Budaya dan Reinventing Organisasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta
§
Sunarto,
Herawati Jajuk. 2002. Manajemen. Yogyakarta: BPFE. UST.
§
Thoha,
Miftah. 2009. Perilaku Organisasi, Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.
§
Wibowo dan
Phil, M. 2010. Budaya Organisasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar