Siapasih yang
ingin mendapat pasangan yang bejat dan jahat! Bila seorang ditanya “Pilih mana,
mendapat istri yang shalehah dan taat atau yang bejat?” Sudah tentu jawabannya
adalah istri yang shaleh dan taat. Tentu tidak ada yang mendambakan pasangan
yang tidak baik, bahkan seorang penjahatpun tidak sudi di jahati istri.
Pernikahan sering
kali bisa diartikan sekali selamanya, setidaknya dalam waktu yang lama. Tentunya
kita bisa membayangkan bila kita salah memilih pasangan bisa berarti neraka di
bayar di muka, setiap hari harus berkutat dengan kekesalan, sedih, kecewa. Sebaliknya,
tidak ada yang lebih membahagiakan ketimbang pasangan yang baik, dia menjadi
tempat kembali saat putus asa, penyemangat terbaik yang selalu ada, tentu saja
pasangan dunia akherat.
Banyak yang
menginginkan istri yang taat namun mencarinya lewat jalan maksiat, di tempat
terlaknat, ya sudah tentu tidak akan pernah dapat. Banyak yang mendambakan
istri yang bertanggung jawab, tapi sudah dari awal melatihnya untuk tidak
betanggung jawab. Banyak pula yang berharap istrinya kelak yang bisa
memuliakanya, tapi ia mendapatkanya dengan jalan yang menghinakanya.
Memang setiap
tujuan banyak cara mendapatkanya namun bila di awal arahnya harus tepat karena selangkah
meleset sedapa terjatuh di ahirnya. Karena pernikahan bukanlah sesuatu yang
bisa di ulang dan bukan perkara main-main dengan sistem uji coba. Sama seperti
pasangan yang taat, ibarat suatu tujuan, harus jelas arah dan jalan dari
awalnya. Sebab wanita dan laki-laki yang baik berada di tempat tertentu,
menyukai hal tertentu, dan didapatkan dengan cara tertentu pula. Mereka bisa di
temui di mana nama Alloh banyak disebut dan diagungkan, menyukai ketaan, cara
yang jauh dari maksiat.
Pacaran dalah
simbol dari laki-laki yang takut pada komitmen, hanya ingin coba-coba; selama
memberi manfaat dia pertahankan, sudah selesai dia nikmati akan diputuskan. Sedang
menikah adalah tanda bahwa leleki ingin serius dan mempunyai komitmen,
menghormati wanita, juga menghormati ayahnya selama ini bertanggung jawab
menjaganya. Bukan main selonong mengajak
putrinya, tapi dengan mendatangi orangtuanya dengan jantan.
Pacar! Logikanya
sebelum menikah seorang laki-laki/wanita sudah berani pegangan dan meraba yang
jelas bukan mahromnya yang jelas tidak halal tanpa ada akad ataupun jaminan
apapun. Lalu apa yang akan menahan untuk tidak selingkuh setelah menikah? Toh esensinya
sama-sama maksiat. Bila sanggup bermaksiat sebelum menikah, apalagi setelahnya!
Semua manusia
pada dasrnya memiliki kebutuhan akan cinta, tanpa cinta hidup terasa hambar. Terbukti
dari betapa tersiksanya pasangan suami istri yang kehidupan rumah tangganya
begitu hambar, yang menjalaninya hanya sekedar melakukan kewajban
masing-masing. Banyak anak yang tersiksa tidak bisa merasakan bahasa cinta ayah
dan ibunya, itu menjadi bukti.
Selalu
meluaskan ilmu, mematangkan emosi, memurnikan iman. Ketiga hal tersebut
sekiranya perlu disiapkan sesegera mungkin sehingga kedewasaan diri akan lebih
cepat terbentuk.pernikahan bukan perkara muda atau tua melainkan menikah secara
dewasa. Persiapkan dan matangkan diri agar menjadi pribadi yang berani menikah
dengan kedewasaan.
Di jaman
sekarang status jomblo seringkali menjadi bahan cemooh. Pemahaman di ranah
pergaulan anak muda “ Ngak gaul ah kalo nggak punya gebetan.” Ada juga yang
merasa “Kurang macho kalo cowo ngak punya pacar.” Dan bagi cewe ada perasaan
nggak laku kalau ngak ada yang nembak atau ngajak pacaran.
Jatuh cinta
hal yang sangat n=manusiawi, tapi bila solusinya pacaran, bukan membuat tenag
malahan di hantui gelisah. Cinta seharusnya membuat hidup lebih terncana. Namun
bila dengan pacaran mungkinkah? Saat bertemu dengan merasa bahagia yang teramat
dan gundah bila berpisah. Kalo dia ajak berbicara serius tentang pernikahan
jawabanya sok tua loh, nggak asik ah. Bahkan terasa membosankan kalau
membicarakan hal serius.
Jika difikir
secar serius dan dengan hati yang bersih, pacaran itu sebetulnya merugikan,
bahkan cendrung n=menjerumuskan dan menghancurkan masa depan pelakunya. Dalam hal
ini pihak wanita lebih dirugikan tentunya. Oleh karena itu carilah suami bukan
pacar.
Bagi yang
belum siap menikah, persiapkanlah dengan penuh kesungguhan, perkuat nyali,
perdalam ilmu, biasakan bekerja keras, tingkatkan kedekatan dengan tuhan,
sempurnakan mental dan akhlak. Carilah guru yang bisa membimbing. Bergaulah di
lingkungan yang bisa mempercepat kematangan hidup. Jauhkan dari sifat hura-hura
dan tidak bertanggung jawab.
Marilah kita
kembali pada nilai-nilai agung yang sudah di gariskan oleh sang mahha pencipta.
Dia mampu mengatur semesta dan milyaran planet yang ada. Sungguh bila kita
berfikiran bahwa aturan yang Dia turunkan tidak bisa mengatur kehidupan
manusia. Agama bukan hanya urusan rumah ibadah, ibadah ritual, dan doa semata. Agama
mengatur semua aspek kehidupan. Jangan sampai agama hanya tertulis di KTP, tapi
tidak tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Bergelar haji korupsi, terlihat
alim malah zalim, shalt rajin maksiat
jalan, mulut sering berdzikir di kesempatan lain menggunjing.
Bawalah agama
dalam segala aspek kehidupan. Luruskan niat bahwasanya kebaikan yang kita
lakukan merupakan bentuk ketaan terhadap Alloh. Lebih baik menikah daripada
pacaran. Sebab hanya akan mendorong kepada kudaratan. Bisakan pacaran tanpa
berbuat dosa? Mungkinkah tanpa bergandeng tangan? Apa iya tidak mengobrol
beruaan?
Menikah atau
menunda. Bila memang sudah siap dalm segala hal segerakanlah bila memang belum
sepenuhnya siap maka mendekatkan diri kepada Alloh agar di segaerakan. Bukan memilih
dengan berpacaran. Seperti pesan Nabi “Hai para pemuda! Barang siapa sudah
mampu, menikahlah karena menikah dapat menundukan pandangan mata dan lebih
menjaga kehormatan, bagi yang belum mampu, berpuasalah karena ia dapat
mengekang” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Cinta memang
urusan hati tapi teteplah gunakan logika dan akal sehat saat jatuh cinta. Budaya
pacaran segera jauhi karena cendrung merusak dan mejerumus ke zina.
Benar bahwa
memang tidak semua pacaran melakukan zina, namun hampir semua kasus perzinaan
di awali dengan pacaran. Orang yang berzina tanpa pacaran biasanya pergi
ketempat prostitusi membayar orang lain untuk memuaskan nafsunya. Sementara bagi
yang pacaran. Ia tidak perlu membayar dengan alasan “suka sama suka.”
Banyak yang
kesulitan mencari jodoh, ahirnya mereka menyerah dan tidak mau berusaha. Ia hanya
berdiam diri di rumah sambil berharap akan ada yang datang menghampirinya. Jodoh
layaknya rejeki, ketetapanya ditentukan Alloh, tapi harus diusahakan. Bila tidak
puny harta, bukankah kita sibuk mencarinya? Begitu juga seharunya jodoh, cari, bukan
menunggunya. Tugas manusia hanyalah berusaha, biarlah Alloh yang maha tau yang
menentukanya.
Jadilah
kelompok manusia yang pemberani. Mengekspresikan cinta melalui pernikahan. Adalah
kelompok yang betul-betul tau
konsekwensi setelah berkeluarga, bahwasanya membangun keluarga harmonis butuh
usaha yang tidak mudah, bahwa pasangan dan anak adalah amanah kelak akan di
mintai pertanggungjawabannya, yang sangat mungkin salah kelola jika orang
tuanya tidak capable. Kelompok inilah yang memiliki kemungkinan paling besar
untuk mencapai pernikahan yang harmonis, sebab, mereka berani mengambil
tindakan dengan konsekwensinya telah diperhitaungan dengan baik.
Menikah
adalah keputusan besar dalam hidup. Keputusan besar yang menjadi gian step
berikutnya adalah menyegerakan menikah!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar