Sabtu, 24 Januari 2015

Salah Pilih NERAKA DIBAYAR DIMUKA

Siapasih yang ingin mendapat pasangan yang bejat dan jahat! Bila seorang ditanya “Pilih mana, mendapat istri yang shalehah dan taat atau yang bejat?” Sudah tentu jawabannya adalah istri yang shaleh dan taat. Tentu tidak ada yang mendambakan pasangan yang tidak baik, bahkan seorang penjahatpun tidak sudi di jahati istri.
Pernikahan sering kali bisa diartikan sekali selamanya, setidaknya dalam waktu yang lama. Tentunya kita bisa membayangkan bila kita salah memilih pasangan bisa berarti neraka di bayar di muka, setiap hari harus berkutat dengan kekesalan, sedih, kecewa. Sebaliknya, tidak ada yang lebih membahagiakan ketimbang pasangan yang baik, dia menjadi tempat kembali saat putus asa, penyemangat terbaik yang selalu ada, tentu saja pasangan dunia akherat.
Banyak yang menginginkan istri yang taat namun mencarinya lewat jalan maksiat, di tempat terlaknat, ya sudah tentu tidak akan pernah dapat. Banyak yang mendambakan istri yang bertanggung jawab, tapi sudah dari awal melatihnya untuk tidak betanggung jawab. Banyak pula yang berharap istrinya kelak yang bisa memuliakanya, tapi ia mendapatkanya dengan jalan yang menghinakanya.
Memang setiap tujuan banyak cara mendapatkanya namun bila di awal arahnya harus tepat karena selangkah meleset sedapa terjatuh di ahirnya. Karena pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa di ulang dan bukan perkara main-main dengan sistem uji coba. Sama seperti pasangan yang taat, ibarat suatu tujuan, harus jelas arah dan jalan dari awalnya. Sebab wanita dan laki-laki yang baik berada di tempat tertentu, menyukai hal tertentu, dan didapatkan dengan cara tertentu pula. Mereka bisa di temui di mana nama Alloh banyak disebut dan diagungkan, menyukai ketaan, cara yang jauh dari maksiat.
Pacaran dalah simbol dari laki-laki yang takut pada komitmen, hanya ingin coba-coba; selama memberi manfaat dia pertahankan, sudah selesai dia nikmati akan diputuskan. Sedang menikah adalah tanda bahwa leleki ingin serius dan mempunyai komitmen, menghormati wanita, juga menghormati ayahnya selama ini bertanggung jawab menjaganya.  Bukan main selonong mengajak putrinya, tapi dengan mendatangi orangtuanya dengan jantan.
Pacar! Logikanya sebelum menikah seorang laki-laki/wanita sudah berani pegangan dan meraba yang jelas bukan mahromnya yang jelas tidak halal tanpa ada akad ataupun jaminan apapun. Lalu apa yang akan menahan untuk tidak selingkuh setelah menikah? Toh esensinya sama-sama maksiat. Bila sanggup bermaksiat sebelum menikah, apalagi setelahnya!
Semua manusia pada dasrnya memiliki kebutuhan akan cinta, tanpa cinta hidup terasa hambar. Terbukti dari betapa tersiksanya pasangan suami istri yang kehidupan rumah tangganya begitu hambar, yang menjalaninya hanya sekedar melakukan kewajban masing-masing. Banyak anak yang tersiksa tidak bisa merasakan bahasa cinta ayah dan ibunya, itu menjadi bukti.
Selalu meluaskan ilmu, mematangkan emosi, memurnikan iman. Ketiga hal tersebut sekiranya perlu disiapkan sesegera mungkin sehingga kedewasaan diri akan lebih cepat terbentuk.pernikahan bukan perkara muda atau tua melainkan menikah secara dewasa. Persiapkan dan matangkan diri agar menjadi pribadi yang berani menikah dengan kedewasaan.
Di jaman sekarang status jomblo seringkali menjadi bahan cemooh. Pemahaman di ranah pergaulan anak muda “ Ngak gaul ah kalo nggak punya gebetan.” Ada juga yang merasa “Kurang macho kalo cowo ngak punya pacar.” Dan bagi cewe ada perasaan nggak laku kalau ngak ada yang nembak atau ngajak pacaran.
Jatuh cinta hal yang sangat n=manusiawi, tapi bila solusinya pacaran, bukan membuat tenag malahan di hantui gelisah. Cinta seharusnya membuat hidup lebih terncana. Namun bila dengan pacaran mungkinkah? Saat bertemu dengan merasa bahagia yang teramat dan gundah bila berpisah. Kalo dia ajak berbicara serius tentang pernikahan jawabanya sok tua loh, nggak asik ah. Bahkan terasa membosankan kalau membicarakan hal serius.
Jika difikir secar serius dan dengan hati yang bersih, pacaran itu sebetulnya merugikan, bahkan cendrung n=menjerumuskan dan menghancurkan masa depan pelakunya. Dalam hal ini pihak wanita lebih dirugikan tentunya. Oleh karena itu carilah suami bukan pacar.
Bagi yang belum siap menikah, persiapkanlah dengan penuh kesungguhan, perkuat nyali, perdalam ilmu, biasakan bekerja keras, tingkatkan kedekatan dengan tuhan, sempurnakan mental dan akhlak. Carilah guru yang bisa membimbing. Bergaulah di lingkungan yang bisa mempercepat kematangan hidup. Jauhkan dari sifat hura-hura dan tidak bertanggung jawab.
Marilah kita kembali pada nilai-nilai agung yang sudah di gariskan oleh sang mahha pencipta. Dia mampu mengatur semesta dan milyaran planet yang ada. Sungguh bila kita berfikiran bahwa aturan yang Dia turunkan tidak bisa mengatur kehidupan manusia. Agama bukan hanya urusan rumah ibadah, ibadah ritual, dan doa semata. Agama mengatur semua aspek kehidupan. Jangan sampai agama hanya tertulis di KTP, tapi tidak tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Bergelar haji korupsi, terlihat alim malah zalim, shalt rajin  maksiat jalan, mulut sering berdzikir di kesempatan lain menggunjing.
Bawalah agama dalam segala aspek kehidupan. Luruskan niat bahwasanya kebaikan yang kita lakukan merupakan bentuk ketaan terhadap Alloh. Lebih baik menikah daripada pacaran. Sebab hanya akan mendorong kepada kudaratan. Bisakan pacaran tanpa berbuat dosa? Mungkinkah tanpa bergandeng tangan? Apa iya tidak mengobrol beruaan?
Menikah atau menunda. Bila memang sudah siap dalm segala hal segerakanlah bila memang belum sepenuhnya siap maka mendekatkan diri kepada Alloh agar di segaerakan. Bukan memilih dengan berpacaran. Seperti pesan Nabi “Hai para pemuda! Barang siapa sudah mampu, menikahlah karena menikah dapat menundukan pandangan mata dan lebih menjaga kehormatan, bagi yang belum mampu, berpuasalah karena ia dapat mengekang” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Cinta memang urusan hati tapi teteplah gunakan logika dan akal sehat saat jatuh cinta. Budaya pacaran segera jauhi karena cendrung merusak dan mejerumus ke zina.
Benar bahwa memang tidak semua pacaran melakukan zina, namun hampir semua kasus perzinaan di awali dengan pacaran. Orang yang berzina tanpa pacaran biasanya pergi ketempat prostitusi membayar orang lain untuk memuaskan nafsunya. Sementara bagi yang pacaran. Ia tidak perlu membayar dengan alasan “suka sama suka.”
Banyak yang kesulitan mencari jodoh, ahirnya mereka menyerah dan tidak mau berusaha. Ia hanya berdiam diri di rumah sambil berharap akan ada yang datang menghampirinya. Jodoh layaknya rejeki, ketetapanya ditentukan Alloh, tapi harus diusahakan. Bila tidak puny harta, bukankah kita sibuk mencarinya? Begitu juga seharunya jodoh, cari, bukan menunggunya. Tugas manusia hanyalah berusaha, biarlah Alloh yang maha tau yang menentukanya.
Jadilah kelompok manusia yang pemberani. Mengekspresikan cinta melalui pernikahan. Adalah kelompok  yang betul-betul tau konsekwensi setelah berkeluarga, bahwasanya membangun keluarga harmonis butuh usaha yang tidak mudah, bahwa pasangan dan anak adalah amanah kelak akan di mintai pertanggungjawabannya, yang sangat mungkin salah kelola jika orang tuanya tidak capable. Kelompok inilah yang memiliki kemungkinan paling besar untuk mencapai pernikahan yang harmonis, sebab, mereka berani mengambil tindakan dengan konsekwensinya telah diperhitaungan dengan baik.
Menikah adalah keputusan besar dalam hidup. Keputusan besar yang menjadi gian step berikutnya adalah menyegerakan menikah!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar